Barakati Institute
2026
Publications
•
2026
PESTA ANOA
👤
Erwin Usman
Founder
🤖
Halaman ini diterjemahkan menggunakan AI.
Deskripsi Lengkap
Pekan ini, setelah membaca buku investigasi jurnalis dari rekan-rekan AJI Indonesia, Sisi Gelap Sulawesi, saya seperti membaca kabar buruk dari halaman belakang rumah sendiri.
Dulu, di banyak kampung Sulawesi, pesta lahir dari tanah yang masih memberi kehidupan dan menyatu dengan alam. Orang pulang dari laut dan kebun. Orang turun dari hutan. Ada hasil buruan, ikan, jagung, ubi, sayur, cerita lama, dan makan bersama dalam kehangatan keluarga.
Pesta seperti itu, bukan sekadar makan. Ia tanda bahwa hutan masih dekat, sungai masih jernih, laut masih biru dan bersahabat, serta orang kampung masih punya tempat pulang untuk berkumpul dan bersenja gurau.
Sekarang pestanya berubah rupa. Namanya lebih gagah: hilirisasi, kawasan industri, smelter, proyek strategis nasional, dan kawasan ekonomi khusus. Ada lagi sebutan lain: transisi energi, investasi hijau, dan rantai pasok baterai dunia.
Di layar pejabat, Sulawesi tampak seperti masa depan Indonesia. Tapi di kampung, masa depan itu datang sebagai debu di lemari, air sumur yang makin susah, laut berubah warna, kebun hilang, sawah gagal panen, ibu-ibu yang bingung bagaimana agar dapurnya tetap menyala, dan anak-anak yang tumbuh rentan karena berada dekat polusi dan pencemaran.
Buku ini, membawa kita berjalan dari Bantaeng yang berhadapan dengan lingkar smelter Huadi Group/HBIP; Malili dengan kepungan nikel dan rencana PT IHIP; To Cerekang yang wilayah adatnya disebut tersentuh konsesi PT PUL; Bajo Baliara di Kabaena yang hidupnya diganggu tambang nikel; Torobulu yang berhadapan dengan PT WIN dan jejak PT Billy Indonesia serta dugaan “uang entertainment” kepada oknum aparat polisi yang disebut dalam buku; sampai Kalukku-Mamuju, Mateng, Pohuwato, Bulango Ulu, dan Manado yang ditarik dalam pusaran tambang pasir, bioenergi, bendungan, dan reklamasi.
Jadi ini bukan cerita satu kampung.
Ini peta luka dan pedih dari satu pulau.
Yang paling berat menanggungnya sering perempuan dan anak-anak. Kalau air susah, ibu-ibu yang paling dulu pusing. Kalau anak batuk, gatal, atau sakit, ibu yang begadang. Kalau laut rusak dan kebun hilang, dapur tetap harus menyala. Investasi bicara triliunan, tapi yang menghitung beras cukup sampai kapan tetap perempuan di rumah.
Sampai di sini saya teringat Prof. Vedi Hadiz. Katanya, oligarki bukan cuma soal orang kaya. Ia soal kuasa yang membuat izin, modal, aparat, dan meja keputusan berkumpul di tangan sedikit orang. Prof. David Harvey menyebutnya perampasan lewat pembangunan, atau “accumulation by dispossession”: penumpukan kekayaan dengan cara mencabut orang dari tanah, ruang hidup, sumber daya, dan hak bersama mereka.
Bahasa di kampungnya bisa kita buat sederhana begini: tanah rakyat berubah jadi angka, uang triliunan mengalir ke bos-bos pemilik tambang, sementara rakyat banyak kebagian derita sosial dan lingkungan.
Maka jika di Papua hari ini ada “Pesta Babi”, di Sulawesi ada “Pesta Anoa”. Ini sindiran paling halus. Anoa tidak ikut rapat investasi. Hutan tidak pernah tanda tangan persetujuan konsesi. Laut tidak punya pengacara. Sumber air tak punya media massa. Tapi semua ikut menanggung akibat.
Untuk Pulau Buton, buku ini harus dibaca seperti alarm. Benteng ekologi hutan Lambusango seluas 65.000 ha tidak perlu menunggu airnya keruh dulu. Tidak perlu menunggu ibu-ibu susah air dulu. Tidak perlu menunggu anak-anak sakit dulu dan bolak balik ke puskesmas. Tak perlu menunggu bencana longsor dan banjir menyapu habis kampung-kampung.
Jangan sampai pesta besar bernama investasi dan janji tentang kemajuan, memakan tanah dan semua isinya yang selama ini memberi kita karunia hidup.